Soal Industri Sawit, Harian KOMPAS Kehilangan Sikap Kritis?

Posted on December 6, 2010

0


Pada Sabtu (4 Desember 2010) harian KOMPAS menurunkan berita di halaman 19 yang berjudul “Buat Produk Bermerek” dengan sub judul, “Pengusaha Sawit Jangan Saling Menghancurkan”

Dalam tulisan itu disebutkan bahwa kontribusi sawit dalam penyerapan tenaga kerja besar, mencapai 3,5 juta orang. Sumbangan sawit terhadap PDB juga terus naik, dari 2,5 persen menjadi 3,3 persen.

Dalam berita itu juga dituliskan bahwa setiap pemangku kepentingan, baik pengusaha, pemerintah, LSM, pembeli maupun petani memiliki persepsi atau cara pandang yang berbeda- beda terhadap industri kelapa sawit.

Sekilas tidak ada yang aneh. Namun bila kita telisik lebih dalam berita di KOMPAS itu muncul beberapa keanehan.

Pertama, meskipun di berita itu disebutkan bahwa ada banyak pemangku kepentingan yang memiliki pandangan yang berbeda-beda terhadap industri sawit, namun anehnya narasumber dalam berita itu hanya satu, yaitu Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.

Apa akibatnya? Karena sumbernya hanya satu, maka wacana yang dominan dalam memandang industri sawit adalah wacana dari pemerintah, yang kemungkinan besar tidak jauh berbeda dengan pengusaha sawit.

Bagaimana presepsi LSM dan petani dalam memandang industri sawit? Tidak jelas! Karena dalam berita itu tidak ada narasumber yang berasal dari petani atau LSM.

Kedua, disebutkan kontribusi industri kelapa sawit bagi penyerapan tenaga kerja dan PDB adalah besar. Sekali lagi, KOMPAS lupa untuk mengkritisi, bagaimana kondisi buruh di industri kelapa sawit? Apakah pesatnya ekspansi industri kelapa sawit juga diimbangi oleh meningkatnya kesejahteraan dan keselamatan buruhnya?

Mengapa KOMPAS tidak kritis dalam menuliskan berita itu? Sebuah kesilapan atau sebuah kesengajaan?

Tidak jelas. Yang jelas, pemberitaan dengan dengan narasumber tunggal dan dominasi wacana dari pemerintah itu menguntungkan pengusaha sawit. Petani, buruh industri sawit dan LSM (terutama LSM lingkungan hidup) jelas dirugikan dalam pemberitaan itu, karena pandangannya terhadap industri sawit tidak dimunculkan.

Advertisements
Posted in: Uncategorized